RSS

ANTOLOGI 2000

RUANG RINDU 2000(metamorfosa hidup)

MAAF ADIK

Kumaafkan kamu, Adik!

Tanpa menunggu kau pinta

Kasih sayang yang mengalir tak pernah tinggalkan noda walau setitik

Tapi maafkan aku, Adik,

Salahku tak terkira walau kenangan tak pernah terlupa

Nun-2310

                                                04-02-‘02

YANG TAK BERHARGA

Aku tulis lagi

Pada penghabisan kertasku. Dan kubuka

Lembaran buku yang baru

Kehidupanku mengalir. Sampai batas waktu

Yang telah ditentukan oleh-Nya.

Aku hanya bingung. Apa lagi yang harus kutulis

Semua telah terbaca hanya dengan melihat dan

Mendengar.hingga beribu ragam huruf

Hanya jadi alas tidurnya.

Yang kutulis hanya bisa kubaca sekedarnya.

Karena orang  lain terlalu canggihnya.

Hingga tak mampu melihat dunia luar.

Kecuali dunianya sendiri dan hidupnya sendiri.

Dan matinya sendiri.

Nun-2310

                                    19-12-‘02

KENAPA DENGAN HIDUP?

Kepekaanku telah hapuskan. Kelembutan nurani

Karena orang lebih suka KEKERASAN

Dengan mengalirkan nyanyian dentuman suara

dan aliran darah manusia.

Kebekuan justru membuka

Lahan manusia unbtuk mencerna

Arti hidup dengan amenelannya: mentah-mentah

“apa arti jihad?”

dengan menmbunuh banyak manusia tanpa dosa…..

lalu kenapa kasih sayang didengungkan

jika yang meraja hanya rasa tak berperasa.

Kenapa dengan hidup?

Nun-2310

                                    19-12-‘02

MATAHARI DI UFUK SENJA

Kubuka untaian tali kasih sejati

Seiring salam pagi menuai senyum .walau tiada abadi

Cukup untuk hari ini. dari sang mentari

Engkau yang tersenyum simpul bahkan tertawa

Engkau  yang marah walau tak sengaja

Engkau yang tak selalu bersua

Engkau… yang sekilas ada bagi secercah cahaya.

Tak usai hari walau kau pergi

Tak habis suryaku walau kau berlalu

Anyaman sutra ungu senantiasa membekas di kalbu.

Semua berawal pada kami yang lugu.

Kulepas rela kulepas. Pergi meraih tangga di laut lepas

Karena harapanmu lebih berarti dari hadirku yang sekejap

Juga tanpa kesan mendalam.

Lambaianku hanya perlu untuk kau ingat

Bahwa kami pernah hadir, isi harimu.

Walau mungkin kan lengap seiring awaktu.

Ada setitik sinar di ujung sana, berpijar sangat rawan

Hancurkan asa. Kau rangkai bagi kelanjtan usia dalam citamu dan cinta

Kakak…

Harus tanpa airmata. Tak perlu ada duka

Biarkan perpisahan ini kan tetap ada. Karena itu memang harus nyata adanya.

Ini hari kau pasang tanda merah di dahi. Kau ikat tali seuntai

Pada pergelangan.

Sesuatu kan berlalu dari kisahmu sebelah

Meninggalkan banyak hati dengan rasa kehilangan

Kalau ada celah pada diri. Hapuslah tanpa harus bersusah hati

Lapangkan taman hijau nan selalu bersemi

Dengan senyum, canda tawa. Walau kadang pertikaian.

Tapi kami kan tetap mengabdi. Berkaca ilmu yang tak pernah berlalu.

Akan datang pula pada kami. Saat harus melangkah pergi.

Dengan hanya berpulang cahaya sisa dalam perjuangan.

 Nun-2310

                                                19-12-‘02

                                                “pisah-kenang”

 

YANG MAHA MENDENGAR KELUH KAMI

Dari medan perang lapis baja aku lahir

Di Negara yang hampir hancur tinggal menunggua waktu

Tak ada sesal. Karena ini yang seharusnya ada.

Tapi kenapa lebih banyak mereka buta, tuli dan bisu

Pandangan dan pembicaraan mereka hanya berlaku pada saat

Keuntungan berlapis menghujani mereka

Sesak duniaku terasa hampa. Walau lebih terang dari nyawa di atas sana.

Tuhan. Ujian yang seharusnya Kau persembahkan untuk mereka

Kami juga merasakan. Sedanga mereka semakin membumbung

Di atas awan

Tuhan….kapan jatuhnya?

                                                            Nun-2310

                                                            06-01-‘03

YANG TERHORMAT KAUM ELIT

Kami juga kaum elit: ekonomi sulit kata orang

Berfrofesi sebagai kontraktor tetap:kata pak Guru Bahasa Jawa

“orang yang hanya mampu kontrak rumah, bukan paemborong rumah”

apa kabar kaum elit yang di sana?

Bukankah kita punya kesamaan nama. Tapi kenapa dinding rumah yang

Kau bangun terlalu kokoh dan angkuh? dan hanya butuh angin-angin

Rumah tanpa lantai……..

Seandainya rumah itu kau bangundengan tanganmu sendiri

Niscaya tak seburuk itu hatimu. Dan tanganmu yang halus itu

Tak kan selalu melambai untuk kami

Seolah-olah hidupmu takkan pernah terisi oleh kami…

Saying kau tak punya hati

Hingga lehermu tak pernah menoleh ke kanan atau ke kiri

Selalu ke atas….

Nun-2310

                                                            06-01-‘02

YANG TERSISA

Kenapa hari aku berjalan. Tergopoh-gopoh arungi sesuatu yang pasti

Tapi tak pasti.

Hitungan kedelapan ia hampir kucapai

Lalu apa..

Runtuh………. Berkeping-keping…

Ternyata yang tertinggal hanya butiran-butiran tak berguna

Airmata. Tak habis seluas samudra. Hampir sekarat

Sesal…

Tak berguna…

                                                Nun-2310

                                                16-03-‘03

 

AKU TAK TAHU

Aku tak tahu di pintu mana?

Kanan dan kiri mengajak tanpa jawab. Tak tau pula aku.

Sedang apa hari ini. Tegur sapa menunggu di belakang hari

Menyanyi atau berlagu?

Kenapa tak seorangpun. Ku kenal namanya

Kuakrapi wajahnya. Bahkan kutantang senyumnya

Tak pula aku ingin lari. Kursi sudah kududuki.

Kemana pergi hariku? Kemaren dan kemarennya lagi…

Apa aku ingin pulang?

Sebelum sempat kujawab selamanya.

                                                Nun-2310

                                                25-05-‘03

AKU HANYA MENULIS

Aku hanya menulis. Karena tak ada yang ajak aku bicara

Banyak orang disekelilingku

Tapi, itulah. Siapa?

Tuhan. Datangkan mereka

Mereka….yang bakal tepis diamku

Datangkan insane… yang buatku tersenyum

Nun-2310

25-05-‘03

SEBATANG POHON

Kenapa kau melambai

Bergoyang ke kanan, kiri, depan, belakang….

Ikut irama anginkah?

Atau sekehendak hatimu?

Tapi kau tak sekokoh beringinku

Hanya selembar akar yang kuat

Tak juga sama sepertiku

 Tak ada yang tegar tapi cukup menggugah selera

Hanya sebatang pohon bergoyang

Jauh dari teman

Rindang tidak.agak gersang

Sendiri.menanti hujan.

                                    Nun-2310

                                    19-06-‘03

YANG SUDAH TERJADI, LALU

Yang sudah terjadi. Lalu,

Tak terlukiskan dengan kata-kata

Ia tertimbun, tertindih, terkoyak dan hancur.

Nyawa-nyawa mungil yang menhkmati secuil indahnya

Hidup. Ia

Si kecil berpuluh-puluh yang tak tahu menahu tentang

Hal hitam terjadi di atas bukit

Di balik “rimbunnya” hutan pinus.

            Yang terasa

Tak terlukiskan dengan kata-kata

Karena yang tertinggal darinya hanya

Selembar baju dan sepasang sepatu dan

Sebuah nama tanpa aberpulabng jasad

Allah pengasih

Terima ia di sisi-Mu

Yang abadi dari-Mu.amin

                                    Nun-2310

                                    19-12-‘03

                                    “pacet berlalu”

DARI SUARA SI KECIL

Aku dengar suara-suara alam

Menyerukan kedamaian. Suara-suara manja

Harap hadirkan ketulusan. Bukan suara-suara

Ciptaan manusia.

Ada kudengar. Allahu Akbar……

Perlahan terdengar walau tak begitu jelas…

Tapi ia menghadap kiblat bergelar sajadah

Si kecil murni. Tapi pasti.

Nun-2310

                                    19-12-‘03

                                    “pacet berlalu”

SEKELUMIT MIMPI

Jakarta yang kulewati

Adalah seonggok mimpi di siang hari

Seuntai mukjizat hampir terpatri

Dalam tiga malam bulan menjumpai

Jakarta yang kutandang

Dari kata-kata bermakna. Dihadirkan sepenggal olehnya

Tanpa pernah dinyana

Terima kasih Tuhan.

Kau ciptakan mimpi itu jadi di depan mata

Hanya sedikit senyum dan ribuan syukur,

                                                Nun-2310

                                                Jakarta, 22-03-‘04

 

BULAN MEMERAH DI SIANG HARI

Bulan memerah di siang hari

Mendera pada batas kuncup hati. Berdering api menjalar

Mendera…

Menebas segala…

Tak kupunya sisa.

Tuhan,

Bergumpal batu memberat langkah. Tercekat dinding

Yang tak pernah terbangun olehnya. Bilakah akhir

Mimpi ujung hari.

Allah pengasihku,

Berjejal yang kupunya seperti tak punya arti padanya.

Terseok bersimpuh hanya tawa ku trima.

Terlalu hinakah diriku…..haturkan maaf pada-Mu

Pada akhir tangisku…..

Nun-2310

                                                             22-03-‘04

 

YANG TERSISA

Kutandang hari ini permisi pada bulan setengah jadi

Ya Allah.. kapan hari harapan itu datang

Bersua tersenyum pahit

Aku jadi tersia karena sesuatu tak bermuka

Yang seharusnya kuraba adalah sudut yang kupunya

Tapi aku jadi buta karena nila itu semakin tak nyata

Seperti silaunya purnama di tanggal tua.

Seandainya Allah memberi anugerah-Nya padaku siang ini

Kututup kepahitan. Kutelan kepenatan

Berpacu ayun langkah semburat. Pada sujud sekian waktu

Untuk-Nya.

                                                Nun-2310

                                                06-04-‘04

APAKAH?

Aku mengirimnya di surat kabar. Apakah berguna?

Kau tak tahu

Kau tak mengerti

Dan tak mau tahu.

Tapi apakah jadi tak berguna. Jika ia dapat hapuskan cara oleh hati sendiri.

Walau tak senyum sendiri

Apakah jadi tak berguna. Bila duka sirna tiba-tiba

Lalu harapan mengembang. Asa tercipta sesuatu menjelang

Apakah tak berguna. Jika ternyata yang terkini menghasilkan sesuatu?

Apakah tak berguna.kalau ternyata aku lebih punya sesuatu

yang tak dipunyai orang lain dan menghasilkan uang?

Apakah?

Nun-2310

                                                06-04-‘04

Catatan hari ini

Kenapa kejenuhan merajai

Saat lewat masa tak pernah kunanti

Bergerak ia tak tentu arah

Takjua pernah kusapa

Dirinya……….

Segala bebannya.

Terhenyak malah penuh dengan

Catatan hari lalu.

Yang seharusnya tak kubawa

Bagai sampahtanpa debu

Menjulangnya justru pada

Saat aku khusyu’ melukiskan

Darahku pada catatan

Kosong…..

                                                                        Nun-2310

                                                                        25-04-‘04

YANG TAK PERNAH TERBAGI

Aku pernah membelinya…

Sepotong asa yang tak pernah terjadi

Murah di setiap pojok ruang,

Celah kampung, kolong-kolong terurai…

Aku berusaha menggalinya

di sudut hati tanpa isi

Ah. Apa semua sia-sia?

                                                Nun-2310

                                                26-04-‘04

BOSAN ATAU BOSAN?

Jika kebosanan hinggap

Berpaculah pada hilangnya penat

Mengayuh walau tak berpeluh

Setetes…. Setetes… menggunung

Jika kebosanan hinggap

Bertanyalah pada apa yang kau ingin

rasakan

wujudkan

sisanya

sampai terdera jera

dan jika kebosanan meleleh

pergi mencari mimpi

yang bukan hanya mimpi.

                                                Nun-2310

                                                28-04-‘04

TANYA TANPA JAWAB

Hari ini matahari bersinar terang. Tak seperti hari lalu.

Kemaren dan kemarennya lagi.

Mendung tak ubahnya selimut menutup bumi

Melingkarkan kebekuan yang semakin nyata

Menampakkan kemerahan yang tak pernah pudar warnanya.

Mendung tak ubahnya.runtuhan air bening di mata-Nya

Bagai balas laku yang tak surut sesatnya.

Mendung tak ubahnya hati ini. Merenung segala coba di bumi.

Hari ini matahari terus bersinar mungkinkan perlambang kehidupan akan

Terus berjalan?

Nun-2310

                                                            2005

PERTEMUAN KEMBALI

Aku tak tahu apa guna aku mengadu

Jarak waktu dan segalanya takkan dapat menolong.

Gumpalan asap hitam gemuruh tak ubah walau setitik

Kapan ia Tanya kapan jawaab tak ada batas.

Bicara apa guna jika tertutup pintu maaf.

Ia alih pandang entah apa….

                                                            Nun-2310

                                                            Nopember’05

SANG LENTERA

Lentera itu terang lalu redup tapi aku tak ambil ia

Terletak di sudut tertentu ia adanya.

tapi aku tak ambil. Hanya menjaga

lalu kenapa harus ada yang hilang dari yang tak kuambil?

Kenapa harus ada airmata jika tak luka.

Tak wajarkah jika tangis muncul saat dilihat ia menyanyat?

Lentera kujumpa tak utuh tapi juga tak butuh.

Atau tak luluh…

Kala itu bulan separuh dibelakang dinding.

Malam itu ditemaninya aku tengah malam hening.

Tapi takkan kembali karena memang bukan untuknya.

Nun-2310

                                                            Nopember’05

PAMIT

Pagi itu aku pamit dengan rasa tak tentu

Tak tahu apa kutangisi. Ia antar pergiku tanpa kata.

Berjuta hari lalu. Tiap tiga malam kenangan itu tak juga terhapus

Pada sisa waktuku hingga kini

Ia hanya lihat kuberlalu. Tak tahu senyum atau masam hatinya.

Diam…diam…. Kini juga ia diam. Siapa jawab

Tanyaku kala ia membisu.

Nun-2310

                                                            Nopember’05

AKU TERHARU

Aku terharu.detaknya berdentang lagi

Setelah lama tertidur dalam gelap

Mengharukan karena dalam isaknya tak lagi ada tangis

Senyum jenak itu sekiranya takkan berpaling untuk terbang

Atas arah saat rel itu berlalu di ujungnya senja.

Di manapun berteduh. Kucari tepi

Di manapun datang sendu. Tak kan lagi menari.

Saat menghilang untuk menatap. Arah itu telah terbentang luas.

Dia tak terkira.

                                                Nun-2310

                                                09-12-‘05

SORE ITU KUSAPA MERPATI

Sore itu kesapa merpati

yang tak pernah henti bertanya

pada hati yang tertusuk ilalang

Nun-2310

                                                09-12-‘05

AWAN

Awan di atas sana

 Putih menggumpal

Naungi kami

Tapi selalu berseri

Dengan banyak warna-warni. Bersulang senyum mendung

Dan hujan yang runtuh.

Tapi awan di sini

Tak pernah menyentuh kami. Semakin mejauh

Tak berperi

Awan di sini seolah lebih tinggi dari”mu”

Tanpa senyum hanya mencibir

Kecuali untuk yang semu.

Kenapa awan ada dua??

Nun-2310

                                                10-12-‘05

TAK TERSALUR

tadi malam deringnya menggema

bertanya ia pada hari sehari

tapi tak tersalur sampaian

karena dinding muncul

seutuhnya

Nun-2310

                                                10-12-‘05

JANGAN HALANGI

Jangan halangi berlalunya. Bila waktu menuju

Akan datang sosoknya bagi hatimu

            Apa masih jua awan itu kelabu.kelamnya….

            Tak lagi dinding terbuka. Sejak tiba sandungannya.

Harap mentari berujuk terang pada ia. Hingga bulan

Menyusup senyum mengembang. Tawalah……….

Nun-2310

                                                10-12-‘05

JENUH ITU

Tak ada batu terlewatkan. Tapi jenuh terkuak, tanpa alasan

Wahai yang di ujung hari. Aku menatap dinding buta

Tanpa arah kejelasan. Lalu sumbang arus hitam

Yang berkutat dalam kelas

Kemana datangnya…pelangi itu yang dibawanya…

Karena tersangkut kayu biru tanpa cahaya kelabu.

Allah .. datanglah warna-Mu dalam setiap tanyaku yang sesakkan kalbu

Allah.. seru-Mu kujadikan titipan di mana aku meragu akan hangat

Yang tak pasti

Allah.. datang-Mu redakan, musnahkan, hapuskan..

Jenuh itu yang bersandar di pagi buta sampai kelam menjemput awan.

Alllah..

Ilahi Robbi…

Nun-2310

                                                10-12-‘05

LAGU UNTUKNYA

Apa guna lagu tanpa nyawa

 Jiwa kosong melayang. Tak harus kutemukan

Saat kau bersandar di labuhan karang itu. Mutiaranya mengalir

Dengan aliran berhembus.tak kencang tapi tak redup.

Terlalu rawan untuk diamati. Apalagi dihayati

Kepadanya ia tak pernah bertanya

Adapun tak usik suara. Hingga tempat ini bergeming

Saat badai terjang gelombang tak pasang.

Tuhan kasihi dirinya…

Ia bagai dari yang telah terkuburkan.

Nun-2310

                                                10-12-‘05

HUJAN ITU BUKAN PERTANDA

Awal bermula

Akhir terpisah

Seperti dirinya yang jauh

Ternyata juga tak berujung

Aku memang mengenalnya

Berjuta tahun yang lalu

Aku juga telah mengukirnya

Walau hanya dalam sedetik jam itu…

Ia ternyata..

Antara berlalu dan berujar

Antara singgah dan tiada

Antara sesuatu yang tak terjamah

Aku ternyata,

Tak tau yang seharusnya

Tak juga harus bertanya

Hanya biarkan!

                                    Nun-2310

                                    26-12-‘05

TUHAN MEMANG SAYANG

Tuhan memang sayangi ia

Seperti juga sayangi aku

Tapi bintang berlabuh terlalu jauh

Dan ia tak ingin berlayar

Mengembang di tempat  itu.

Sehingga terpisah jarak dan waktu

Walau nyata terasa

Ah… seperti… sendu

Tuhan….

Beri kami pelabuhan di pintu kami

Masing-masing. Sampai terhenti

Akar yang tak layak berkembang

Bagi hati kami.

            Tuhan

            Hidup kami

            Berkahilah..

                                    Nun-2310

                                    26-12-‘05

YANG USAI

Senyum kanak-kanak menjalar

Di sepanjang pantai

Membius duka

Merajai lara.

            Angina bertiup sepoi

Meninabobokkan kesenjangan mata batin

Hingga beku tak tampak

Hinggap sedetik hampiri sepi

Pagi itu tanpa mimpi tanpa hayal tanpa ingin tanpa harap

Segala terkubur segala terkikis segala terhapus

Asa……….kini usai sudah

Tsunami tak tersisa masa depan.

Nun-2310

                                    26-12-‘05

YANG TERLAHIR YANG USAI

Bapak………..

Masih semalam aku dalam gendonganmu

Berayun dalam senyummu

Tertimang dalam alunan syahdumu

Ibu………

Subuh tadi baru kurasakan

Buai sayangmu dalam air susu

Yang adalah juga masa depanku.

Tapi hari ini Bapak,

Kau meronta dalam berontak tak hinggap

Menghapus segala yang ada di sekitar

Tapi hari ini Ibu,

Kau menangis tanpa kering air setetes

Tinggi gelombang itu adalah tangisan

Yang mampu robohkan dinding-dinding beku

Aku di sini Bapak, Ibu,

Anakmu yang baru hadir dalam hitungan hari…..

Tak lagi dapat kau temui walau hanya jasad.

Aku di sini Bapak, Ibu,

Tak lagi mampu menanti uluran tangan sayangmu

Dia menghendaki aku kembali sebelum sempat kau pandang aku

Dalam usia lebih tinggi

Bukan karena engkau tak mampu, tapi karena cukup sudah titipan ini

Karena memang usai sudah perjalananku hingga detik ini.

Apa yang harus ditangisi Ibu?

Apa yang harus disesali Bapak?

Aku telah bahagia tanpa pernah lagi menyusahkanmu

Aku telah tenang walau tak pernah kau atemukan jasadku

Tempatku di sini…

Di sini Ilahi. Tak perlu ragukan lagi.

Senyumlah Ibu tercinta,

Tertawalah Bapak tersayang,

Kita kan bersua di masa mendatang

Kehidupan selanjutnya…….

Nun-2310

                                    26-12-‘05

YANG TERHAPUS

Senja ini sepi……. Dingin teramat sangat menusuk sampai ke tulang.

Senyum orang-orang terasa asing di mata dan telinga

Hambar. Seolah sesuatu tak nampak, menyapa tanpa senyum

Pagi ini.

Canda anak pantai pun tak berlagu

Hanya sebuah hal yang biasa berlalu

Seperti kemaren, kemaren dan kemaren

Tapi angka 8 di dinding itu menghadirkan jiwa lain yang sebelumnya tak pernah bersua. Separah apa dosa kami, sehina apa laku kami, sekejam apa mata hati kami? Hingga Engkau menghapus segala asa segala harap segala mimpi dan cita-cita kami hanya dalam satu tiupan lilin bagimu, yang merupakan hempasan bumi dalam pandang tak terkira……….

Ya Robbi……..

Kau hadirkan kami lewat jiwa-jiwa bernyawa untuk ke depan. Kau hadirkan kami pada jiwa-jiwa yang mengenalkan-Mu dan yang tak menjawab-Mu. Kau hadirkan kami pada asa-asa yang punya mimpi dan membakar mimpi……….

            Kami hanya hamba-Mu ya Allah… hamba tanpa kekuatan……….

Seperti pagi itu, Kau hadirkan kembali raga kami dalam bau-bau busuk yang menyengat, jasad-jasad tersia di tumpukan batu, tumpukan kayu, tumbal dalam harta kami dengan tangan dan kaki entah kemana……….

            Kau pisahkan kami dari bapak-ibu tercinta, saudara tercinta, harta benda tercinta. Segala milik kami yang kamicintai tanpa mengatasnamakan nama-Mu.

Meraka menangis ya Allah….. menangisi kami yang hanya tumpukan jasad dalam kubur missal tak berharga, tak layak sebagai tempat tinggal terakhir. Karena terlalu lelahnya mereka mengolah jasad kami yang berlimpah.

Berlimpah ya Allah………..

Bukan rizki yang berlimpah hari ini. Tapi jasad busuk tak pandang usia jabatan tak pandang segala merk duniawi. Berlimpah ya Allah.. hari ini.

Jelas semua kuasa-Mu atas kami. Jelas semua takdir-Mu pagi ini.

DINDA DI SANA

Dinda di sana. Memo itu tak pernah lepas dari benak.tak pernah sepi dari hati. Seperti Dian-Nya. Berkembang seumur jagung tapi tak pernah menuai layu

Tanpa berkembang berlalulah. Tinggal kenangan.

Dinda yang kusayang

Ada banyak menunggu. Ada banyak berhasrat

Jangan berkecil hati. Alur ini belum berhenti.

Nun-2310

                                                                        2006

MASA INI

Lama waktu tak memihak padaku untuk goreskan yang setitik

Di lembarmu

Lama juga rasaku jadi tak berpaling padaku

Aku tak punya sepi. Tak lagi sendiri

Berbuah semua padaku. Rindu.

Nun-2310

                                                                        07-04-‘08

JANJI

Banyak janji mu membawaku kea lam surga jiwaku

Terbang menyapa titian senandung senyum

Janjimu selangkah setapak tiba pada harapan

Keabadian yang tak abadi. Kenyataan yang tak mimpi

Janjimu … seperti janji-Nya …. Menyentuhku

Nun-2310

                                                                        07-04-‘08

YANG SENYUM

Ketika surya tersenyum pagi itu. Tangis si kecil mulai merayuku

Mengajakku bermain dengan candanya yang tak henti merinduku.

Bidadari kecilku yang selalu membuat citaku bersemi tak henti

Di ujung waktu

Manis …. Salamlah pada bunda

Pada tiap hening hatinya. Pada seluruh sisa usianya

Pada asa yang tak tutup senja

Pada-Nya yang anugerahi segalanya.

Nun-2310

                                                                        07-04-‘08

APA YANG MESTI IA LAKUKAN?

Apa yang mesti ia lakukan saat rakyatku menjerit

Sama sepertiku. Jeritan melambung seperti melambungnya

Hajat hidup yang tak terpenuhi.

Apa yang ia janjikan pada kami ternyata sebuah janji indah

Yang tak pernah bersemi layaknya bunga yang mekar

Setiap hari. Layu sebelum beri aku harumnya

Layu … untuk seterusnya.

Nun-2310

                                                                        23-04-‘08

UNAS ‘08

Tak hendak ia menggantung nasipnya. Tapi tak pelak hal itu datang juga.

Secuil dalam seujung waktu. Terjaga saat mimpi belum mau usai

Meninabobokkan mekarnya usia

Melenakan senyum yang terkembang senantiasa.

Menyapa pagi yang hinggap. Sesaat membuka mata

Untuk menutupnya kembali.

Nun-2310

                                                                        23-04-‘08

HARI INI YANG KUTULIS

Hari ini aku menulis untuknya. Melantunkan rangkaian tali pengikat

Yang tak punya ujung. Akan lepas begitu saja jika tak hendak ku tahan

Rasanya . taburan bunga itu tak lagi punya warna, harumnya hambar

Dan sepi seperti suara hati yang senandung sedih.

Hari ini aku bernyanyi untuknya. Tapi aku tak tahu untuk apa

Dan kenapa. Hanya Tanya

Nun-2310

                                                                        23-04-‘08

SEBUAH CATATAN DALAM SEBARIS KENANGAN

 

Tertanggal itu aku menulisnya

Seonggok kenangan jingga bersemu merah melintas

Setapak demi setapak. Membuka lembarannya sedetik demi sedetik.

Tertanggal itu aku mengingatnya

Saat tapak kaki melangkah berat. Sangat berat, bergelanyut seolah tak mau sampai pada tujuan. Saat harus tinggalkan belahan jiwa. Saat harus sisihkan si buah hati. Saat harus kesampingkan tugas diri demi mencapai 100% yang diingini.

Tertanggal itu aku membukanya kembali

Ternyata hari-hari itu tak seburuk dalam bayangan. Tak sekelam apa kata orang. Tak sehitam warna yang dijanjikan. Hari-hari itu banyak melukis kenangan tak terlupakan hingga ujubng usia.

Aku mengingatnya………

Saat kususur lapangan dan jalan setapak menghirup udara dingin teramat sangat. Berbaur canda dengan jiwa-jiwa yang tak pernah kukenal sebelumnya.

Aku mengingatnya ……….

Saat kusuap nasi di meja makan dengan menu-menu khas dan mengunyah tanpa suara, bahkan… seandainya mungkin, tanpa bergerak!! Hanya nyanyian kecil yang selalu berdendang * “selamat makan!”…… dan  sekedar ucapan  “terimakasih…”

Aku tertawa mengulangnya. Sekaligus menangis mengingatnya. Karena kenangan itu selamanya takkan pernah terulang. Tapi aku menyimpannya rapi di hati ini. Dan sempat kutulis kesan di buku memori:

  • ada kesan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata
  • semoga kenangan LPJ tetap jadi kenangan terindah buat kita

teman ….. sahabat   …..  saudara  …..

lembaran kelabu memang tak harus dibuka jika itu menyesakkan. Memori pilu tak harus diungkapkan jika itu menyakitkan. Tapi yang tertulis di sini adalah bagian kehidupan kita yang takkan terhapus oleh apapun jua.

Bagiku:        Tak ada perpisahan setelahnya

Tak ada tangis karenanya

Tak ada permusuhan apapun bentuknya

Bagiku:        Semuanya tetap jadi indah untuk dikenang

Semuanya nyata untuk diungkapkan

Semuanya jadi saudara dalam jalinan

Bagiku:        Semuanya seperti yang kita inginkan ………….

Pertemuan ini semoga bukan yang terakhir

Pertemuan ini semoga jadi pembuka pertemuan berikutnya

Untuk menjalin tali silaturrahmi yang terindah

Teman  ….. sahabat  ….. saudara  …..

Yang tersayang …..

Yang terkasih  …..

Yang tercinta …..

Semoga jalinan ini tetap di hati dan tak pernah terkubur walau badai melalui

Teman  ….. sahabat  ….. saudara  …..

Terima kasih atas semua yang telah ada

                                                            Jatirejo, 8 OKtober 2008: 22.00 WIB

                                                            Bersama “Munajat Cinta”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: